kenaikan harga bbm untuk kebaikan masa depan

Kenaikan Harga BBM untuk Kebaikan di Masa Depan

 

Polemik soal rencana kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) semakin berkembang luas di masyarakat. Meskipun pemerintah sendiri belum benar-benar memastikan besaran kenaikan harganya, demonstrasi menolak rencana itu sudah merebak di beberapa tempat. Memang wajar jika rakyat menolak rencana itu karena biasanya naiknya harga BBM akan diikuti dengan kenaikan harga barang-barang lainnya sementara penghasilan masyarakat sendiri umumnya tidak serta merta akan ikut meningkat.

Awalnya pemerintah sendiri tidak berencana menaikkan harga BBM melainkan akan melakukan pembatasan BBM bersubsidi bagi mobil pribadi bulan April nanti. Tetapi semakin melejitnya harga minyak mentah di pasar dunia sepertinya memaksa pemerintah untuk menaikkan harga BBM karena beban subsidi yang ditanggung akan semakin besar melebihi rencana anggaran di APBN.

Ditambah lagi fakta bahwa sebenarnya subsidi BBM lebih banyak dinikmati kalangan menengah ke atas yang punya kemampuan memiliki mobil pribadi, semakin menguatkan alasan bagi pemerintah untuk menaikkan harga BBM. Namun alasan kenaikan harga minyak mentah dunialah yang sejatinya menjadi sebab, karena sebenarnya sumber minyak di Indonesia tidak lagi mampu mengimbangi laju konsumsi BBM masyarakat kita.

Sebenarnya sejak Indonesia keluar dari organisasi eksportir minyak dunia (OPEC) seharusnya semua pihak harus menyadari bahwa dalam urusan pengadaan BBM kita telah bergantung kepada negara lain. Cadangan minyak terbukti kita, dengan pola eksploitasi seperti sekarang dan tanpa penemuan ladang minyak baru, hanya akan bertahan paling lama 15 tahun, bahkan ada yang menyebut akan habis 10 tahun lagi. Apalagi sebagian besar operator pertambangan adalah milik pemodal asing yang kemungkinan besar hanya mengejar keuntungan sesaat, mungkin saja cadangan minyak kita akan habis dalam waktu yang lebih singkat.

Saat hal itu terjadi, maka jika subsidi seperti yang berlaku saat ini tetap diterapkan maka bisa dibayangkan betapa besarnya anggaran yang harus disiapkan. Dengan jumlah cadangan minyak dunia yang semakin menipis akan membuat harga minyak dunia berpeluang untuk terus naik tentu saja akan memperbesar jumlah subsidi. Apalagi cadangan minyak terbesar dunia adalah di negara-negara Timur Tengah yang stabilitas politiknya mudah terguncang dan rawan terjadi konflik bilateral, maka akan semakin menyulitkan kita jika pola konsumsi energi kita tidak berubah.

Sebenarnya kenaikan harga BBM apalagi dengan mengikuti harga keekonomian, akan mendidik masyarakat untuk mengubah perilaku menjadi lebih hemat mengkonsumsi BBM. Namun sektor transportasi umum dan angkutan baranglah yang akan menderita. Tetapi sebenarnya bisa diatasi dengan mewajibkan semua kendaraan umum dan angkutan barang memakai bahan bakar gas (BBG) yang lebih murah dan cadangannya masih sangat besar di Indonesia. Tentu saja pemerintah juga harus menjamin ketersediaan BBG itu di pelosok negeri serta wajib menyediakan transportasi umum beserta prasarananya yang menjangkau seluruh sudut Indonesia.

Selain itu pemerintah juga harus bekerja keras untuk semakin meningkatkan taraf kesejahteraan rakyatnya agar memiliki daya beli yang lebih baik. Mengalihkan anggaran subsidi untuk perbaikan infrastruktur dan membantu permodalan bagi pengusaha kecil atau memberikan bantuan sarana pertanian disertai pendampingan bagi petani-petani kecil tentu akan lebih bermakna dibandingkan dengan membagikan BLT yang rawan manipulasi. Pemerintah juga harus memikirkan perbaikan kesejahteraan buruh dengan memangkas biaya-biaya siluman kepada pengusahanya dan tidak lagi menjual murahnya upah buruh untuk menarik investor asing.

Di sisi lain pemerintah sendiri juga harus mengubah paradigmanya dalam mengelola negara dan menjadikan rakyat sebagai fokus bukan hanya menjadi pelayan partai politik. Pemerintah juga harus menghemat anggaran dan mau memangkas kemewahan-kemewahan yang didapatnya dan mengalihkannya untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. Anggaran belanja pemerintah sendiri yang lebih dari setengah APBN kita seharusnya dikurangi dan dialihkan ke sektor-sektor yang membawa peningkatan kesejahteraan masyarakat umum.

Jika saat ini rencana kenaikan BBM itu mendapat penolakan keras dari rakyat tentu saja bisa dipahami karena banyak sekali petinggi negeri yang berfoya-foya di atas derita rakyatnya. Rasanya memang tidak adil mencabut subsidi bagi rakyat sementara tiap hari rakyat sendiri disuguhi tontonan para petinggi negeri yang terjerat korupsi, termasuk para politikus dari partai yang berkuasa. Begitu juga oknum-oknum pegawai pajak yang diduga juga melakukan tindak korupsi membuat rakyat semakin terluka. Ditambah kesan pemerintah sendiri ragu-ragu untuk menerapkan rencana kenaikan harga BBM, pantas saja jika terjadi penolakan terhadap rencana itu.

Padahal dengan melihat kondisi nyata bahwa cadangan minyak Indonesia yang hampir habis dan cadangan minyak dunia setiap saat juga semakin menurun, kenaikan harga BBM adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari. Tinggal kembali kepada keberanian penguasa sendiri dalam mengambil langkah, secara perlahan menaikkannya hingga harga keekonomian atau tidak berbuat apa-apa dan meninggalkan bom waktu bagi pemimpin pemerintahan berikutnya.

Jika saja di orde reformasi ini semua pemimpin mau berpikir untuk kelangsungan dan kebaikan Indonesia di masa depan, sesungguhnya polemik kenaikan harga BBM seperti saat ini bisa dihindari. Rakyat akan menerima kebijakan pemerintah, sepahit apapun, jika pemerintah sendiri mau berlaku jujur dan adil serta benar-benar mau berbuat untuk kebaikan rakyatnya. Jika tidak maka akan semakin hilanglah kepercayaan rakyat pada pemimpinnya dan bisa jadi hanya akan mengantarkan semakin terbenamnya negara besar bernama Indonesia.

 

banyak demo demo yang dilakukan akhir akhir ini untuk menentang kenaikan BBM. Dari partai yang mengaku oposisi tulen, sampai mahasiswa yang mengaku sebagai penyambung lidah rakyat. Sebenarnya apakah alasan logis dari keberatan mereka menolak kenaikan BBM? Menyengsarakan rakyat? Apakah sudah di hitung berapa bertambahnya sengsara rakyat? Apakah dengan tanpa kenaikan ini rakyat kecil belum sengsara? Mari kita lihat.

Total pemerintah menganggarkan 178,62 Trilyun untuk 40 juta kilo liter BBM yang disubsidi. Dengan asumsi harga minyak USD 105 dan kurs Rp. 9.000,- per dolarnya. Dengan kenaikan BBM per april maka subsidi akan menjadi Rp. 137,38 trilyun. Atau ada penghematan Rp. 41,24 Trilyun. Sebuah angka maha dasyat. Dahlan Iskan berkata, menahan deviden 2 trilyun dari BUMN akan menghasilkan efek 12 trilyun. Apalagi kalau ini 41,24 trilyun! Berapa efek ekonomi yang bisa dihasilkan? Saya tidak tahu. Saya bukan ekonom. Tetapi saya hanyalah sarjana teknik. Mari kita berhitung.

Dengan penghematan sekitar 40 trilyun ini, dapat pemerintah berikan kepada rakyat kecil secara langsung. Sejujurnya saya tidak setuju BLT. Selain menimbulkan keksiruhan, juga hanya menyebabkan timbulnya konsumerisme hebat sesaat. Tetapi bila diberikan kepada rakyat dalam bentuk sekolah gratis, pengobatan gratis, jembatan, jalan, bendungan, jalur irigasi, dan transportasi murah, ini tentu lebih bermanfaat. Saya ambil contoh adalah adanya angkutan gratis. Seperti di kota perth.

Kita ambil saja 200 kota terbesar Indonesia yang akan di beri subsidi bus gratis. Kita ambil harga bus yang mahal. 1 milyar perunit. Perkota kita beri 50 bus gratis. Tentu saja kita bisa sesuaikan dalam setiap kota. Jakarta tentu lebih banya dari kota Solo misalnya. Jadi kita rata rata dalam 200 kota kita beri 50 bus. Total ada 10.000 bus gratis. Dengan harga 1 milyar, maka total butuh biaya 10 trilyun. Kita anggap bahwa 1 bus dipakai selama rata rata 18 jam. Jadi kita butuh 3 shift driver. Setiap pengemudi di gaji 3 juta perbulan. Maka untuk gaji kita butuh 1,1 trilyun pertahun dari total 30.000 pengemudi. Dengan asumsi setiap bus akan jalan 300 km/hari dan memakai bahan bakar gas dengan perbandingan 1 liter:5 km serta harga gas Rp. 5.000,-/liter maka kita butuh biaya sekitar 1,1 trilyun. Dengan asumsi mekanik, staf, manager, biaya sparepart dan lainnya sekitar 2 trilyun(ini udah super asumsinya) maka total kita hanya butuh duit sekitar 14 trilyun! Dan untuk tahun ke 2 dan seterusnya hanya 4 trilyun. Karena kita sudah tidak beli bus lagi. Asumsi usia pakai bus kita anggap 7 tahun.

Bayangkan. Ada 200 kota yang gratis angkutan umumnya. Dan tahun ke 2 bisa kita pakai 200 kota lagi. Dan demikian seterusnya. Sampai semua daerah bisa gratis! Dengan asumsi 200 kota gratis saja masih ada duit 26 trilyun yang masih bisa dipakai. Kalau sisanya kita pakai untuk membayar sekolah dari 40 juta anak sekolah program 9 tahun yang tidak mampu, maka dalam setahun kita akan habis 14.4 trilyun dengan asumsi peranak Rp. 30.000/bulan untuk membayar SPP. Masih sisa sekitar 12 trilyun. Terakhir kita pakai untuk asuransi kesehatan.

Ini adalah kutipan dari ASKES tentang asuransi kesehatan untuk masyarakat tidak mampu. “Pemerintah memiliki program Jamkesmas (JaminanKesehatan Masyarakat Miskin) dan saat ini, dengan anggaran yang hanya Rp 6,3 triliun, Jamkesmas hanya mampu mengcover 76,4 juta rakyat miskin. Padahal diperkirakan jumlah penduduk yang rentan miskin bila sakit mencapai 115 juta jiwa. Karena itu, pemerintah minta daerah berperan dalam mengcover penduduk miskin yang tidak masuk kuota Jamkesmas melalui dana daerah dalam bentuk program Jamkesda (Jaminan Kesehatan Daerah) atau PJKMU (Program Jaminan Kesehatan Masyarakat Umum) yang dikelola oleh PT Askes (Persero), tetapi apakah daerah-daerah mampu? Ini menjadi tantangan”.

Sumber http://www.ptaskes.com/uploads/bulletin/BIA_26_April_2011_email.pdf

Dari sisa ada 12 trilyun kita pakai untuk mengcover semua penduduk miskin anggap kurang 5 trilyun. Daripada nunggu pemda yang udah pasti kurang perhatian. Ada sisa 7 trilyun. Silahkan dipakai untuk bangun sekolah. Dapat sekitar 10 ribu sekolah. Itu udah dengan spesifikasi bangunan sangat bagus. Asal tidak di korupsi. Dan ini adalah program pertahun! Dalam 5 tahun saja akan ada 50 ribu sekolah.

Kurang apalagi? Baru pengurangan subsidi saja udah demikian dasyat! Semua transportasi kota gratis! Bangunan Sekolah baru, dan biaya SPP gratis! Saat sakit juga gratis. Coba bayangkan kalau semua subsidi BBM dicabut baru 40 trilyun pertahun saja sudah dasyat! Apalagi bila 180 trilyun pertahun dari subsidi BBM semua di cabut. Apalagi bila subsidi listrik yang 93 trilyun juga dihapus! Dulu dahlan iskan sanggup memberi gratis listrik untuk rumah masyarakat tidak mampu asal yang lain membayar sesuai tarif. Heran kenapa DPR dan pemerintah tidak setuju? Betapa dasyatnya 270 trilyun pertahun yang bisa dipakai untuk mengentaskan rakyat miskin. Bukan hanya transportasi gratis, biaya sekolah gratis, biaya kesehatan gratis. Tetapi juga dapat memberikan lebih banyak fasilitas luar biasa kepada rakyat.

Menunggu apalagi? Hapus saja segala subsidi! Alihkan kepada rakyat kurang mampu. Sungguh mengherankan kalau ada partai dan mahasiswa ngaku membela rakyat tetapi menolak kenaikan BBM. Darimana dasarnya? Awasi saja penggunaan dana hasil penghapusan subsidi. Jangan malah dipakai untuk menambah anggaran kementerian atau departemen. Bahkan bancakan anggota legislatif. Mau mengentaskan kemiskinan? Cabut segala macam subsidi yang malah dinikmati kalangan mampu!!

 

Sumber: kompasiana.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s